JAKARTA – Desa tradisional di Jepang selalu punya daya tarik yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Begitu sampai di sana, suasananya terasa jauh berbeda dari Tokyo atau Osaka yang dipenuhi gedung pencakar langit. Rumah-rumah kayu, jalan kecil yang tenang, pegunungan hijau, hingga aliran sungai yang jernih membuat banyak orang merasa seperti sedang masuk ke dunia dalam film-film Studio Ghibli.
Kalau selama ini Jepang identik dengan kota modern, sebenarnya masih banyak desa tradisional yang mempertahankan wajah aslinya sejak ratusan tahun lalu. Tempat-tempat seperti ini cocok buat kamu yang ingin menikmati Jepang dengan ritme yang lebih santai. Tidak perlu terburu-buru mengejar kereta atau berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain. Cukup berjalan kaki, menikmati suasana, lalu membiarkan waktu berjalan pelan.
Salah satu desa tradisional di Jepang yang paling terkenal adalah Shirakawa-go, sebuah desa di Prefektur Gifu yang masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO. Desa ini dikenal dengan rumah-rumah bergaya gassho-zukuri, yaitu bangunan beratap jerami yang bentuknya menyerupai tangan yang sedang berdoa. Arsitektur seperti ini sudah bertahan selama ratusan tahun dan dirancang agar mampu menahan salju tebal saat musim dingin.
Saat musim dingin tiba, Shirakawa-go berubah menjadi desa yang benar-benar terlihat seperti negeri dongeng. Atap-atap rumah tertutup salju, lampu-lampu mulai menyala menjelang malam, dan seluruh desa terlihat sangat hangat. Banyak wisatawan Indonesia yang mengaku tempat ini mengingatkan mereka pada latar film animasi karya Hayao Miyazaki. Tidak heran kalau desa tradisional di Jepang ini selalu masuk wishlist para pecinta fotografi.
Kalau datang saat musim panas atau musim gugur, suasananya juga tidak kalah cantik. Sawah-sawah hijau mengelilingi desa, sungai kecil mengalir jernih, dan udara pegunungan terasa sangat segar. Buat yang ingin benar-benar menikmati suasana pedesaan Jepang, menginap semalam di salah satu rumah tradisional menjadi pengalaman yang sangat direkomendasikan.
Selain Shirakawa-go, ada Gokayama di Prefektur Toyama. Desa ini sering kalah populer dibanding tetangganya, padahal suasananya justru lebih tenang. Rumah-rumah tradisionalnya masih dihuni penduduk lokal sehingga kehidupan sehari-hari masyarakat bisa terlihat lebih alami. Banyak muslim traveler memilih Gokayama karena tidak terlalu ramai wisatawan dan cocok untuk menikmati Jepang yang lebih autentik.
Desa tradisional di Jepang lainnya yang juga menarik adalah Tsumago-juku di Prefektur Nagano. Dahulu tempat ini merupakan kota persinggahan para pedagang dan samurai yang melintasi Jalur Nakasendo pada zaman Edo. Sampai sekarang, bangunan kayunya masih dipertahankan sehingga suasananya benar-benar membawa pengunjung kembali ke masa lalu.
Berjalan di Tsumago terasa berbeda karena hampir tidak ada papan reklame modern yang mengganggu pemandangan. Jalanannya bersih, rumah-rumah tua masih terawat, dan beberapa toko menjual kerajinan tangan khas Jepang. Rasanya seperti sedang menjadi tokoh utama dalam film Jepang klasik.
Buat muslim traveler, perjalanan ke desa tradisional di Jepang memang membutuhkan sedikit persiapan, terutama soal makanan halal. Namun sekarang tidak perlu terlalu khawatir. Banyak peserta yang berangkat bersama @wisatahalal.ind sudah mendapatkan itinerary lengkap, termasuk rekomendasi restoran halal atau menu vegetarian yang aman dikonsumsi selama perjalanan menuju kawasan pedesaan.
Kalau ingin berfoto, datanglah pada pagi hari. Selain cahaya matahari yang masih lembut, suasananya juga jauh lebih sepi sehingga kamu bisa menikmati desa tanpa harus berdesakan dengan rombongan wisatawan. Momen seperti inilah yang sering menghasilkan foto-foto terbaik.
Hal menarik lainnya adalah keramahan warga lokal. Meski banyak yang tidak fasih berbahasa Inggris, mereka tetap berusaha membantu wisatawan dengan senyum dan bahasa tubuh. Pengalaman sederhana seperti ini sering kali justru lebih membekas dibanding destinasi wisata yang megah.
Perjalanan ke desa tradisional di Jepang juga mengajarkan bahwa liburan tidak selalu harus dipenuhi agenda padat. Kadang, duduk di depan rumah kayu sambil menikmati udara pegunungan atau mendengar suara aliran sungai sudah cukup membuat pikiran terasa lebih tenang. Ritme seperti ini mulai banyak dicari wisatawan yang ingin menikmati konsep slow travel, bukan sekadar mengejar checklist destinasi.
Karena lokasinya cukup jauh dari kota besar, menyusun perjalanan ke desa-desa ini memang perlu perencanaan yang matang. Itulah kenapa banyak muslim traveler memilih ikut perjalanan bersama @wisatahalal.ind. Selain transportasi dan itinerary yang sudah disiapkan, waktu salat, pilihan makanan halal, hingga durasi singgah di setiap destinasi juga diperhatikan agar perjalanan tetap nyaman.
Kalau suatu hari nanti kamu kembali ke Jepang, cobalah sisihkan satu atau dua hari untuk mengunjungi desa tradisional di Jepang. Mungkin tidak ada pusat perbelanjaan besar atau gedung pencakar langit di sana, tetapi ada ketenangan yang sulit ditemukan di kota-kota modern. Dan sering kali, justru tempat-tempat sederhana seperti inilah yang paling lama tinggal di ingatan setelah perjalanan selesai.