Nggak Cuma Shibuya, Kawasan Tenang di Tokyo Ini Bikin Wisata Muslim Punya Cerita Lain

JAKARTA – Wisata muslim ke Tokyo nggak harus selalu soal Shibuya Crossing, Shinjuku, atau Tokyo Skytree. Tempat-tempat tersebut memang wajib dicoba kalau baru pertama kali datang, tetapi Tokyo sebenarnya punya sisi lain yang jauh lebih tenang. Ada kawasan permukiman, jalan kecil, toko lokal, sampai bangunan lama yang justru bisa membuat perjalanan terasa lebih dekat dengan kehidupan warga Jepang.

Salah satu kawasan yang menarik untuk dicoba adalah Yanaka, yang berada di kawasan Taito, Tokyo. Berbeda dengan Shibuya yang identik dengan gedung tinggi dan layar iklan raksasa, Yanaka menawarkan suasana Tokyo yang lebih tradisional. Gang-gang kecil, rumah kayu, toko sederhana, dan suasana permukiman membuat kawasan ini cocok buat traveler yang ingin berjalan santai tanpa harus terus mengejar destinasi.

Yang paling terkenal di sini adalah Yanaka Ginza. Jalan pertokoan ini memang tidak terlalu panjang, tetapi cukup menarik untuk dijelajahi sambil melihat kehidupan lokal. Ada toko makanan ringan, suvenir, kerajinan, hingga toko kecil yang sudah lama beroperasi.

Kalau datang sore hari, suasana Yanaka Ginza terasa semakin hidup. Kamu bisa berjalan santai sambil mencari oleh-oleh kecil atau sekadar menikmati pemandangan sekitar. Buat wisata muslim, kawasan seperti ini juga menarik karena memberikan pengalaman yang berbeda dari destinasi Jepang yang biasanya terlalu ramai.

Wisata Muslim di Tokyo Bisa Coba Yanaka dan Koyama

Selain Yanaka, ada juga Koyama, tepatnya kawasan sekitar Musashi-Koyama di Shinagawa. Salah satu daya tariknya adalah Musashi Koyama Palm Shopping Street, kawasan pertokoan tradisional yang membentang cukup panjang dan dipenuhi berbagai toko lokal.

Berjalan di kawasan ini terasa seperti melihat Tokyo dari perspektif warga setempat. Ada toko pakaian, makanan, kebutuhan sehari-hari, sampai kedai kecil yang mungkin tidak pernah muncul dalam itinerary wisatawan asing. Buat wisata muslim yang suka mencari hidden spot, tempat seperti ini justru punya cerita tersendiri.

Menariknya, perjalanan ke Musashi-Koyama juga tidak membutuhkan waktu satu hari penuh. Kamu bisa menjadikannya destinasi selingan setelah mengunjungi tempat populer lainnya. Misalnya pagi menikmati Asakusa, siang menuju Ueno, kemudian sore mencoba suasana Musashi-Koyama.

Namun, ada satu hal yang harus diperhatikan, terutama soal makanan. Kawasan lokal seperti Yanaka dan Koyama tidak memiliki pilihan restoran halal sebanyak kawasan seperti Asakusa atau Shibuya. Karena itu, sebaiknya tempat makan sudah ditentukan sebelum berangkat.

Kalau ingin mencari makanan halal sekaligus tempat ibadah, Tokyo Camii & Turkish Culture Center di Shibuya bisa menjadi salah satu pilihan. Masjid ini terkenal dengan arsitekturnya yang cantik dan menjadi salah satu pusat aktivitas muslim di Tokyo.

Setelah berkeliling kawasan lokal, kamu bisa kembali ke area yang memiliki restoran halal lebih banyak. Cara seperti ini membuat perjalanan wisata muslim tetap nyaman tanpa harus mengorbankan kesempatan menjelajahi kawasan yang tidak terlalu mainstream.

Tokyo juga punya banyak kawasan lain yang bisa dijelajahi dengan konsep serupa. Kagurazaka, misalnya, punya gang-gang kecil dengan suasana unik dan perpaduan budaya Jepang-Prancis. Ada pula Daikanyama yang lebih modern tetapi tetap terasa santai dibanding Shibuya.

Yang menarik dari rute seperti ini adalah kamu tidak perlu terus-menerus mengejar foto di tempat viral. Kadang justru momen sederhana seperti masuk ke toko kecil, melihat warga berbelanja, atau duduk sebentar di pinggir jalan bisa menjadi pengalaman yang paling diingat dari perjalanan wisata muslim.

Kalau kamu ingin memasukkan kawasan lokal seperti Yanaka atau Musashi-Koyama ke itinerary, @wisatahalal.ind bisa menjadi pilihan untuk membantu menyiapkan perjalanan. Rute, pilihan hotel, restoran halal, transportasi, dan kebutuhan ibadah bisa diperhitungkan sejak awal sehingga perjalanan terasa lebih praktis.