Travel Jepang: Menikmati Alam dan Ketenangan Hutan Bambu Arashiyama Hidden Spot di Jepang yang Mulai Dilirik Peserta Halal Tour Indonesia Travel Halal ke Jepang, Kenapa Banyak Orang Selalu Ingin Kembali? Kalau ke Jepang Jangan Cuma Tokyo, Kota Ini Bikin Wisata Muslim Makin Berkesan Wisata Muslim ke Kyoto, Kawasan Arashiyama Ternyata Nggak Cuma Soal Bamboo Forest

JAKARTA – Wisata muslim ke Kyoto sering kali langsung mengarah ke Arashiyama Bamboo Forest, padahal kawasan di barat Kyoto ini punya banyak cerita lain setelah wisatawan keluar dari jalur bambu yang ikonik. Kalau punya waktu lebih panjang, Arashiyama justru enak dinikmati dengan ritme yang lebih santai, mulai dari berjalan di sekitar Togetsukyo Bridge, mencari makanan yang aman, sampai menikmati suasana sore ketika keramaian mulai berkurang.

Arashiyama memang terkenal karena hutan bambunya yang seolah menjadi ikon wajib dalam itinerary Kyoto. Japan National Tourism Organization juga menempatkan Bamboo Grove sebagai salah satu daya tarik utama kawasan ini, sementara Arashiyama secara keseluruhan punya kuil, bangunan bersejarah, pemandangan alam, dan Togetsukyo Bridge yang tidak kalah menarik.

Buat wisata muslim ke Kyoto, Arashiyama bisa menjadi kawasan yang menarik justru karena banyak aktivitasnya bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Setelah menyusuri jalur bambu, perjalanan bisa dilanjutkan ke arah Tenryu-ji, kemudian berjalan perlahan menuju Togetsukyo Bridge sambil melihat suasana sungai dan pegunungan di kejauhan.

Togetsukyo Bridge sendiri merupakan salah satu landmark Arashiyama yang cukup mudah ditemukan dari area utama. Dibanding buru-buru berpindah ke destinasi berikutnya, duduk sebentar di sekitar sungai bisa menjadi pilihan menarik setelah cukup lama berjalan di kawasan wisata yang ramai.

Bamboo Forest juga sebenarnya tidak terlalu jauh dari stasiun. Situs resmi Japan National Tourism Organization menyebut jalur hutan bambu berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki dari Saga-Arashiyama Station di jalur JR Sagano. Artinya, kawasan ini relatif mudah dimasukkan ke itinerary tanpa harus menghabiskan satu hari penuh hanya untuk satu spot.

Bagi wisata muslim ke Kyoto, bagian ini cukup penting karena itinerary yang terlalu padat bisa membuat perjalanan terasa melelahkan. Apalagi Arashiyama lebih enak dinikmati dengan berjalan kaki, sehingga menyisakan waktu untuk duduk, makan, dan beristirahat justru bisa membuat pengalaman perjalanan lebih nyaman.

Salah satu tantangan wisata muslim ke Kyoto tentu saja urusan makanan. Jangan sampai sudah jauh berjalan, tetapi baru kemudian sibuk mencari restoran yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

Kabar baiknya, Kyoto punya ekosistem wisata ramah Muslim yang cukup berkembang. Situs resmi Kyoto Travel menjelaskan bahwa Kyoto Muslim Association bersama Kyoto Council for Sharia and Halal Affairs mengawasi sejumlah restoran dan hotel yang menawarkan layanan halal, Muslim Friendly, Muslim Welcome, hingga pork-free.

Karena itu, lebih baik memasukkan agenda makan ke dalam itinerary sejak awal daripada mengandalkan pencarian spontan. Wisata muslim ke Kyoto akan terasa jauh lebih nyaman ketika tempat makan sudah diketahui lokasinya dan wisatawan tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengecek menu satu per satu.

Selain makanan, urusan ibadah juga sebaiknya ikut diperhitungkan. Kyoto Muslim Association mengelola Kyoto Mosque and Islamic Cultural Center dan menyediakan fasilitas untuk salat lima waktu, sementara Kyoto Travel juga mencantumkan sejumlah tempat yang menyediakan ruang salat bagi wisatawan Muslim.

Wisata Muslim ke Kyoto Makin Enak Menjelang Sore

Kalau pagi digunakan untuk mengejar Bamboo Forest, waktu setelahnya bisa dipakai untuk menikmati Arashiyama dengan tempo yang lebih santai. Salah satu bagian paling menarik justru ketika perjalanan mulai mendekati sore.

Cahaya matahari yang mulai rendah membuat suasana di sekitar sungai terasa berbeda. Wisatawan bisa berjalan menuju Togetsukyo Bridge, menikmati pemandangan pegunungan, kemudian mencari tempat untuk duduk atau makan sebelum kembali ke pusat Kyoto.

Bagi wisata muslim ke Kyoto, pola seperti ini bisa menjadi pilihan itinerary yang lebih realistis. Tidak semua perjalanan harus diisi dengan mengejar sebanyak mungkin destinasi karena waktu istirahat, makan, dan salat juga perlu mendapat ruang.

Arashiyama juga cocok untuk wisatawan yang ingin mendapatkan pengalaman Kyoto yang lebih tenang. Memang ada keramaian di sekitar Bamboo Forest dan kawasan stasiun, tetapi semakin menjauh dari titik yang paling populer, pengalaman berjalan kaki bisa terasa lebih santai.

Arashiyama menjadi contoh yang pas untuk itu. Datang ke Bamboo Forest memang hampir wajib kalau pertama kali ke Kyoto, tetapi jangan langsung menganggap perjalanan selesai setelah keluar dari terowongan bambu.

Masih ada Togetsukyo Bridge, aliran Sungai Katsura, kawasan Tenryu-ji, jalan-jalan kecil, hingga suasana sore yang membuat kawasan ini terasa berbeda. Dengan itinerary yang tidak terlalu terburu-buru, wisata muslim ke Kyoto justru bisa terasa lebih nyaman dan punya cerita lebih banyak daripada sekadar mengumpulkan foto di Bamboo Forest.

Kalau ingin menjadikan Kyoto bagian dari perjalanan halal ke Jepang, itinerary juga sebaiknya disusun dengan memperhatikan lokasi makanan, waktu salat, jarak antardestinasi, dan waktu istirahat. Untuk yang ingin perjalanan lebih praktis, informasi paket dan rute wisata halal bisa dicari lewat @wisatahalal.ind, terutama jika ingin menikmati Jepang tanpa harus repot menyusun semuanya sendiri.